KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh
dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi
memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan,
ia bisa memberikan sedikit makanan be...rgizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing,
ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku
memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging
ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang
ikanyang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh,
lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu
dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka
makan ikan” :-)
KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku
sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke
koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel,
dan
hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan
hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku,
melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya
melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu,
tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum
dan berkata:”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” :-)
KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti
kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang,
terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di
bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng
berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku
dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku.
Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang
yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera
memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata
:”Minumlah nak, aku tidak haus!” :-) :-)
KEBOHONGAN IBU YANG
KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang
harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan
dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri.
Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa
penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada
seorangpaman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu
ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di
sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali
menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala
tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh
cinta” :-)
KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku,
kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu
yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela
untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di
luarkota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi
kebutuhanibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut.
Malahan mengirimbalik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit”
KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun
melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah
universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah
perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang
lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di
Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan
anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa”
KEBOHONGAN
IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena
penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada
jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk
ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya
setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku
dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya
terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas
betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah
dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata.
Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini.
Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “jangan menangis anakku, Aku tidak
kesakitan”
KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN
Setelah
mengucapkan kebohongannya
yang kedelapan, ibu tercinta menutup
matanya untuk yang terakhir kalinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar